Showing posts with label Inspiration. Show all posts
Showing posts with label Inspiration. Show all posts

Monday, February 22, 2010

A Wife's Prayer

Dear Lord,

Help me to be the kind of wife you want me to be.

Help me not to take my role as wife lightly or take my husband's love for granted.

Help me to be a good listener, giving my husband my full attention so that I will be well aware of his concerns, aspirations, and needs.

Help me to pay attention to the advice my husband gives me when he brings things to my attention that I may be doing wrong or that I could be doing better.

Help me to be more anxious to please my husband than to have my own way.

Help me to be aware of the things that I do that upset my dear husband - and enable me not to keep doing them - so that I will not be causing unnecessary problems in our relationship.

Help me to remember that I am commanded to submit to my husband's role as head of the house even if he fails to faithfully submit to the headship of Christ.

Help me to treat my husband better than when we were first met and remind me of the importance of spending quality time alone with him and of doing things to remind him of how special he is to me.

Help me not to jump to conclusions about my husband's motives and enable me to think the best of him at all times.

Help me to apologize and set things straight when I complain, falsely accuse, act selfishly, or say unkind or provoking words.

Help me to go out of my way to complement him and to encourage him.

Help me to be a proper example of what a loving, considerate, caring, and self-sacrificing wife should be.

Help me to realize that it is my job to be an example of a mature and godly wife and not an example of a disrespectful and selfish child.

Help me to be joyful in spite of my circumstances and help me to avoid whining and complaining when things do not go my way.

Help me to admit my faults, to apologize when I am wrong, and to be anxious to heal wounds that I may have caused in my relationship to my husband.

Help me to realize that is far better to get my husband to do things I want him to do because he loves me and not because I nag him.

Help me to never forget that You gave me my husband to be a helpmate and best friend and may I never think of him as an adversary or a hindrance.

Help me to show my children how much I respect and love their father by my actions and by the words out of my mouth.

Help me not to be afraid to be affectionate and loving towards my husband in front of my children so that they will know how to be good spouses when they grow up.

Help me to support my husband in the proper administration of discipline to our children so they are not a burden or a grief to my husband.

Help me to show my children that my husband is truly my very best friend and a highly trusted partner in the ministry of our family.

Make me the kind of wife who my husband will never regret having married and even more than that, make me the kind of wife who is a joy for my husband to be around and who my husband will be proud to call his wife, a woman who honors him and who honors Christ.

Amen.

Article By My Friend's Fiancee


Read more!

Wednesday, December 23, 2009

The Light...


A Story By My Best Friend (Evan A.)

Dear, My Friends...

Christopher S. , L. Afriyadi

Dalam hidupku, mungkin ini adalah hal terburuk yg pernah aku alami. Aku kehilangan sebuah cahaya kehidupan dan cintaku. Seketika semua menjadi gelap dan tanpa arah. Ketika itu terjadi aku memutuskan untuk tetap melangkah mencari sebuah cahaya dari orang yg sangat kukasihi itu. Sebuah cahaya yang kupikir akan membuat semua menjadi jelas, membuat hidup ini menjadi penuh makna. Aku melangkah melintasi lembah-lembah gelap di dalam hatiku, mencari dan terus mencari secercah cahaya harapan itu. Akhirnya aku menjalani hidup yg gelap, mulai kehilangan arah, dan aku mulai lelah mencari. Kemudian di dalam kegelapan aku tertatih dan akhirnya aku jatuh ke lembah paling dalam di dasar hatiku. Sepi, sendiri, dan terluka, kehilangan semua daya yang aku miliki untuk bangkit, rasanya kaki yang lelah ini tidak mau lagi mengangkat tubuhku yang berat, tangan ini tidak bisa lagi meraih cita-cita yg ku impikan.

Aku menjadi tidak berdaya, aku menjadi lumpuh... Tetapi aku tidak mau menyerah! Sampai nyawa ini lepas dari tubuhku, aku akan terus mencarinya, mencari cahaya harapanku. Sampai satu ketika, aku benar-benar sudah tidak bisa bergerak walaupun aku ingin. Disaat itu aku bertanya,"Apakah hanya sampai di sini pencarianku..? Apakah aku sudah kehilangan semuanya..?". Aku terus mengulang pertanyaan itu dalam diriku, sampai akhirnya aku menjawab keraguan itu sendiri. "Ya! Semua sudah berlalu dan sudah tidak ada lagi yang tersisa dalam diriku. Semua sudah ku berikan untuk mengejar harapan itu", Ketika itu, aku bertanya lagi kepada diriku "Dimana cahaya itu berada..? Apakah benar cahaya itu masih ada..? Jauh sudah aku melangkah, tapi aku tidak pernah menemukannya".

Kemudian aku berfikir untuk melihat kebelakang dan melihat seberapa jauh aku telah melangkah dan itu membuatku terkejut. Ketika aku menolehkan kepalaku ke belakang ternyata dunia di belakangku penuh dengan cahaya dan warna. kenapa selama ini aku tidak menyadarinya..? Apakah selama ini aku terlalu pilu untuk merasakan cahaya yang hangat itu, atau aku terlalu arogan untuk melihat ke belakang..? Walaupun banyak darahku yang berceceran di sana, tapi dunia itu penuh warna, penuh dengan cahaya. Seketika itu juga aku meneteskan air mata dan tertawa...

Ternyata selama ini aku salah, salah mengharapkan sebuah cahaya yang bukan milikku. Dah aku terlalu sibuk melihat ke depan dan melupakan cahaya miliku sendiri yang mewarnai duniaku dibelakang sana. Hatiku terasa lega setelah melihat itu dan saat hatiku lega aku merasa takjub, rasanya semua tubuh yang penuh dengan luka ini kembali pulih tanpa sedikitpun luka dan semua kegelapan yang ada sirna saat itu juga, yang kuhadapi bukan lagi kegelapan, tapi sebuah cahaya putih yg siap untuk kuwarnai seterusnya, selama aku masih berada di dunia ini.

–Finished--


--When the cherry blossom of our heart bloom in grace
It will cover your sadness and fill away the valley of sorrow in your heart
The leaf of love will bring you a warm and soft light
Those will brightening your heart from darkness and lift your soul to the blue warm sky--


--When the rain has pouring to the earth
Then the land has a new hope of living
Because the pure water sweep away all the burden
And all the sadness of the land
So even in a hard time there always a new born, a new born of hope.--


Read more!

Friday, October 9, 2009

Migrasi Ke Open Source

Beberapa tahun belakangan ini, Microsoft sedang gencar-gencarnya melakukan razia terhadap software mereka yang di bajak. Tidak heran, karena di Indonesia kita ini, pelanggaran terhadap hak atas kekayaan intelektualitas. Meskipun begitu, penjual dan pengguna software-software bajakan ini masih tetap saja merasa nyaman dengan tindakannya. Bahkan diantara mereka ada yang tahu dan mengerti bahwa tindakan mereka merugikan orang lain.

Memang beberapa harga-harga software resmi belum terjangkau oleh masyarakat kita. Akan tetapi hal ini tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk membenarkan tindakan pembajakan,
Lalu bagaimana dengan perkembangan dunia Teknologi Informasi di Indonesia jika masyarakat kita memiliki sebuah dilema antara pembajakan dan daya beli? Mungkin salah satu alternatifnya adalah dengan migrasi ke open source.

Open source adalah sebuah gerakan moral komunitas pengguna komputer agar orang lain dapat menggunakan komputer terlepas dari seberapa besarnya daya beli, dan persetujuan-persetujuan pada saat membeli/menggunakan sebuah program. Hanya perlu sedikit usaha lebih untuk belajar dan mengenal software-software open source yang berbeda dengan software-software kepemilikan.

Dengan bermigrasi ke open source, setidaknya kita dapat membantu diri kita sendiri agar tidak takut dengan pelanggaran hukum, masyarakat karena dapat membantu memberikan software dan pertolongkan kepada orang lain yang membutuhkan software yang serupa, dan tidak lupa membantu memperbaiki generasi negara kita tercinta Indonesia.


Read more!

Friday, July 3, 2009

Aku menangis enam kali untuk adikku...

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan diriku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.

Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya merengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..."

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.

"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan, saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:

"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?

Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"

Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya.

"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.

"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."

Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Berkali-kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan menjadi buah bibir orang?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?"

Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"

Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih kepadanya adalah adikku."

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.




Read more!

Tuesday, May 26, 2009

1 Litre of Tears... More than just a movie...

I never thought that my life would be affected so much by a movie, but it does. '1 Litre of Tears', that's the title of the movie that makes me realize what's the meaning of live and how to be a better man.

The movie was based on a true story about a girl named Kitou Aya. She got a disease called Spinocereberral Degeneration Disease and until now there's no known cure for this cruel disease. This disease makes a person to slowly lose control over his body, every basic human abilities. And this girl, who was 15th years old when she got this disease, fought for her life and still try to help others until the very last moment of her life.

At the first time she got this disease, she did not have any reason to live, cause she felt that she was only waited for her time. But after that, she had found the meaning of life because of this disease too. And she shared about what she had found to everyone through her diary.

This movie shared many of Aya's thought about live and how she faced her 'world' after she got that disease. On of her words that influence me so much was:

People shouldn't dwell on the past. It's enough to try your best in all that you're doing now.

Only by a simple words like this, I was realize that I must go on and I realize that past failures should make better next time.


Read more!